Minggu, 25 Januari 2009

Assesing Fishery Productifity (Chapter 3/Fishing Grounds :Book)

Diterjemahkan Oleh :

MUSLIM TADJUDDAH

Menaksir Produktivitas Perikanan

Produktivitas bisa diartikan sebagai hasil yang menguntungkan, tetapi makna produktivitas dari sisi perikanan jauh lebih kompleks, karena memiliki dimensi-dimensi yang berbeda. Produktivitas tidak hanya pada kemampuan populasi ikan menghasilkan ikan, akan tetapi juga kemampuannya untuk memberikan nilai ekonomi dan keuntungan-keuntungan sosial.

MSFCMA menghendaki sektor perikanan dikelola untuk menyediakan keuntungan seluas-luasnya untuk bangsa, khususnya untuk “food production” serta bidang rekreasi (kegiatan pemancingan), dan agar menjaga stok ikan pada level yang dapat menghasilkan hasil yang optimum untuk jangka waktu yang lama. Optimum yield (keuntungan optimum) sebagai hasil yang menciptakan keuntungan yang terbaik, bukan pada bobot ikan yang besar namun hasil optimum dapat terjadi pada tangkapan yang lebih kecil jika biaya penangkapan tinggi, jika pasar menyerap hanya pada jumlah yang kecil, dan jika masyarkat menghargai rendah bobot ikan. Sebelum tahun 1996 amandement MSFCMA, hukum mendefinisikan hasil optimum sebagai hasil maksimum yang berkelanjutan diartikan sebagai modifikasi dari faktor-faktor sosial, ekonomi dan ekologi lebih dari atau kurang dari hasil maksimum yang berkelanjutan. Tahun 1996 amandement menempatkan “as moficated by” (sebagai modifikasi dari) dengan sebagai pengurangan untuk menjamin bahwa produktivitas opt imum tidak bisa di set pada level di atas hasil maksimum yang berkelanjutan

Kelayakan dari menggunakan produksi maksimum berkelanjutan sebagai tujuan pengelolaan perikanan masih diperdebatkan. Yang terpenting sebenarnya adalah bukan menangkap ikan sebanyak-banyaknya akan tetapi sebagai kontributor utama terhadap keuntungan-keuntungan perikanan yang membuat produktivitas perikanan adalah produktivitas tersebut menghasilkan nilai-nilai ekonomi dan sosial. Sebaik faktor biologis, keuntungan dan kerumitan-kerumitan muncul karena 3 tipe keutungan tidak selalu secara bersama-sama saling menguntungkan pada level yang sama. Ingatlah bahwa keuntungan-keuntungan tidak hanya pada produksi dan rekreasi pemancingan, keuntungan selalu berasal dari “menikmati bukan membunuh”. Suatu nilai diekspresikan untuk mendukung kegiatan/program konservasi perikanan.

Apa itu Produktivitas ?

Faktor biologis, ekonomi, dan sosial adalah faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana mendefinisikan dan mengukur produktivitas. Pengukuran produktivitas tidaklah statis tetapi harus terus menerus beradaptasi pada perubahan.

Produktivitas Biologi

The National Marine Fisheries Services Publication Our Living Ocean menampilkan produktivitas biologis dari sumberdaya perikanan dalam tiga konsep :

1. Hasil tahunan terakhir, rata-rata tangkapan dalam periode tiga tahun

2. Hasil potensial saat ini, potensi tangkapan yang berdasarkan kelimpahan stok pada saat itu dan pertimbangan ekosistem

3. Potensi hasil jangka panjang, rata-rata hasil tangkapan maksimum jangka panjang yang serupa pada hasil maksimum yang berkelanjutan.

Perhatian utama dari pengelolaan perikanan tangkap adalah ikan yang dibunuh oleh kegiatan penagkapan meskipun pengelolaan saat ini telah bertambah tanggung jawabnya terhadap perlindungan habitat ikan dari efek kerusaklan akibat penangkapan.

Jika hasil tangkapan saat ini dibandingkan dengan potensinya , jelaslah bahwa perikanan tangkap tidak sebagai produktivitas biologis. Alasan utama dari degradasi adalah overfishing.

TPI statistik hanya menunjukkan bagian ikan yang mati, ikan yang ditangkap dan dilepaskan dalam kegiatan pemancingan (biasanya yang dilepaskan mati) tidak pernah dihitung karena tidak masuk pasar, terlalu sedikit dan melampaui limit penangkapan atau ada yang memang dilarang oleg regulasi. Menurut perspektif dari produktivitas biologi, ini harus masuk hitungan mortalitas ikan. Intinya perikanan tangkap harus mengamati onboard vessels untuk mengukur dan memonitor ikan yang ditangkap dan dilepaskan dan menghitung hasil yang ditangkap sebagai bagian dari total penangkapan yang diperkenankan.

Produktifitas Ekonomi

Produktivitas ekonomi berhubungan dengan efisiensi perikanan (penerimaan dibandingkan dengan biaya). Efisien jika perbedaan penerimaan dan biaya besar. Penerimaan maksimal menunjukkan bahwa efisiensi perikanan tinggi. Biaya yang efektif diartikan dengan jumlah tangkapan tertentu diperoleh dari biaya yang sekecil-kecilnya.

Produktivitas ekonomi selalu berhubungan dengan kontribusi keuntungan-keuntungan ekonomi terhadap individu dan masyarakat. Tipenya bukan hanya pada ukuran keuntungan tetapi bagaimana pendistribusian keuntungan tersebut. Ingatlah bahwa harus dibedakan antara efisiensi individu dengan efisiensi secara luas. Produktivitas ekonomi selalu diukur oleh pengembalian investasi yang dibuat oleh bisnis perikanan. Untuk bisnis individu efisiensi adalah sesuatu dari mengkobinasikan seluruh bagian-bagian dari usaha perikanan (perahu, alat tangkap, dsb) yang bisa menghasilkan keuntungan setinggi-tingginya. Untuk perikanan secara luas, efisiensi adalah masalah yang lebih luas dimana keuntungan-keuntungan masyarakat umum adalah yang penting. Keuntun gan umum termasuk pekerjaan, kesejahteraan, pemasukan pajak, dan aktivitas-aktivitas ekonomiyang diciptakan oleh sektor perikanan tangkap. Ingatlah bahwa bisnis ini menggeneralisasikan keuntungan kepada publik, juga tidak membuat nilai tetapi mencipatakan biaya. Nilai dibatalkan jika ikan terbuang, dan ketika musim paceklik. Pentingnya keuntyungan publik dan biaya berubah-ubah tiap waktu, ini bergantung pada pasar, kecendrungan publik, pendekatan publik, pendekatan manajemen dan kondisi ekologi, serta produktivita ekonomi.

Produktivitas Sosial

Produktivitas sosial berhubungan dengan hal-hal obyektif. Seperti :

1. Meraih keadilan dalam distribusi pendapatan dan keragaman dari skala usaha perikanan

2. Kesempatan untuk rekreasi dan perikanan subsisten

3. Keberlanjutan komunitas pesisir

4. Pemeliharaan budaya

5. dan penyaluran pengetahuan

Produktivitas sosial digunakan pada perancangan sistem managemen desentralisasi regional serta untuk mendukung kualitas kehidupan( kesehatan fisik dan mental, ketiadaan penyakit sosial, apresiasi estetika, dan rekreasi).

Produktivitas sosial didasarkan pada produktivitas biologis dan ekonomi. Perlu diingat bahwa produktivitas ekonomi dan sosial tidak sama sehingga dapat menimbulkan konflik diantaranya. Contohnya efisiensi ekonomi seperti phk karyawan tidak berorientasi pada produktivitas sosial.

Permasalahannya adalah bagaimana mengukur produktivitas sosial? (ini karena sifat datanya yang kualitatif). Produktifitas sosial yang berkurang bisa diukur pada kondisi kemiskinan dan menunjukkan tanda-tanda ”social distress”.

Mengelola Produktivitas

Dibidang perikanan tidak hanya mengejar tujuan tunggal (komersial, rekreasi atau tujuan subsistensi dan artinya tidak ada keuntungan tunggal terbaik yang didapat dari sektor perikanan. Setiap keuntungan pasti ada implikasinya dan bisa menjadi masalah yang sangat kompleks. Kita ambil contoh pada Atlantic Billfish. Di Amerika AB secara eksklusif hanya untuk kegiatan pemancingan saja tidak untuk kom ersial. Oleh karena itu produktivitas biologisnya adalah mengurangi mortalitas dari AB dan kegiatan pemancibngan memang menyebabkan mortalitas AB menurun. Tetapi jika yang dilepas setelah dipancing tidak selamanya bisa hidup sebab rupanmya dia bisa tertangkap oleh alat tangkap ”longline gear” yang memang ditujukan untuk komersialisasi.

Harus diingat bahwa susah untuk menentukan keuntungan yang pasti diperoleh dan prioritasnya susah menentukan peluang kehilangan dan mendapatkan keuntungan dari pengelolaan sektor perikanan. Contohnya pada kasus ”The Gulf of Mexico Red Snapper Fishery”. Ikan dewasa ditangkap nelayan dengan menggunakan “gear type” yang bervariasi. Untuk memancing, nelayan menggunakan hook dan line. Juvenile fish biasa ditangkap oleh nelayan tetapi dilepaskan karena ada aturannya (biasa ikan yang dilepas mati). Ikan yang dilepas suka terjaring oleh shrimp trawl, sehingga mortalitasnya tinggi.

Susah juga menyeimbangkan produktivitas biologis ekonomi dan sosial pada bidang perikanan (contohnya apa yang terjadi pada nelayan di North Pacific Halibut, program adopsi kegiatan penangkapan perseorangan sukses secara biologis tetapi secara ekonomi dan sosial gagal). Begitu pula yang terjadi pada The Alaska Groudfish Fisheries dimana tidak selarasnya produktifitas biologi dan ekonomi. Populasi ikan tidak menurun karena nelayan diarahkan pada konservasi tetapi tidak cukup bagi produktivitas ekonomi nelayan. Manajemen selalu memberikan dampak terhadap produktivitas ketika sumberdaya ikan dialokasikan pada grup-grup nelayan (tradisional dan modern). Semua teknik manajemen perikanan menciptakan pemenang dan yang kalah, meskipun teknik pengelolaan tersebut atas dasar untuk konservasi. Misalnya saja pelarangan mendekati wilayah “Spawning” mrnyrbabkan nelayan mencari waktu dan wilayah lain untuk penangkapan, pelarangan mendekati wilayah “near shore” melarang akses untuk kegiatan memancing. Aturan tentang ukuran minimumikan membuat nelayan menjauhi wilayah ikan-ikan kecil . Open access menyebakan mrtalitas tinggi, serta konflik diantara nelayan. Langkah-langkah pengelolaan berdasarkan pasar “market based” seperti transfer quota secara individu diarahkan pada peningkatan produktifitas ekonomi dan biologi (seperti membagi resiko secara bersama).

Menjaga Produktifitas sepanjang Waktu

“Perikanan yang berkelanjutan artinya mengelola untuk masa depan sebaik saat ini tidak menjadi standar yang sulit untuk mencapainya jika keinginan politik “politikal Will” ada

(Jim Glade)

Ketika masyarakat berbicara tentang produktivitas, mereka pasti membicarakan tentang keberlanjutan, dan ide tentang keberlanjutan berhubungan dengan manusia terhadap ikan. , karena sistem perikanan termasuk manusia dan ikan yang saling bergantung padanya karena juga terdapat ketidakpastian terhadap masa depan, ide tentang keberlanjutan harus memasukkan pilihan untuk memelihara produktifitas populasi ikan dan habitatnya, sebaik manusia dan komunitas dimana istilah perikanan berkelanjutan diartikan orang kebanyakan sebagai pengelolaan perikanan pada level tertinggi dari produktifitas dari generasi ke generasi tanpa membuang atau merusak ekosistem. Pertanyaannya adalah :

1. Tinggi untuk siapa ?

2. Di dalam variabel sistem, mampukah produksi selalu tinggi?

Perbedaan ide tentang apa yang dimaksud dengan “cukup dan siapa yang mendapatakan apa” menjadi sumber dari pernyataan yang membuat kesulitan politis bagi para manajer.

Perikanan berkelanjutan harus dapat meliputi bisnis perikanan yang sehat secara ekonomi sebaik sehatnya stok ikan secara biologis. Beberapa hal menunjukkan bahwa memelihara populasi ikan pada level yang baik, bisnis dan masyarakat yang bergantung pada sektor ini selalu dipelihara. Tanpa keberlanjutan jangka panjang, beberapa keuntungan tidak mungkin diperoleh dan argumentasi tentang bagaimana mengalokasikan ikan menjadi tidak berarti.

Keseimbangan adalah kunci dari keberlanjutan untuk banyak-keseimbangan antara hari ini dan besok, menggunakan dan konservasi, biologi dan ekonomi, komunitas dan individu, berubah-ubah dan stabil. Ini sangat rumit karena keseimbangan yang tepat adalah berbeda untuk orang yang berbeda. Pengelola perikanan harus mengutamakan konservasi, kemudian memutuskan bagaimana untuk membagi ”the fish” diantara kompetitor tapi pengelola sering berlaku melampaui batas dengan mengizinkan alokasi kebutuhan-kebutuhan menentukan keputusan-keputusan konservasi. Kelemahan dari manajemen gagal untuk mengelola prioritas dari konservasi karena manajemen ”membilang/menghitung hanya pada ketertarikan jangka pendek dari konservasi yang saat ini aktif pada bidang perikanan, sebagai pengganti ”the general publick, saat ini dan di masa yang akan datang.

Mencapai keberlanjutan perikanan , banyak catatan, membutuhkan pertolongan pergantian alami dari perairan. Mengelola variabel lingkungan kelautan secara konsisten tidak menghasilkan. Bagian dari tugas penting pengelolaan perikanan adalah untuk menyeimbangkan antara tahun yang tinggi kelimpahan dan kelimpahan yang rendah pada perikanan – untuk mengelola pada level penggunaan yang memperbolehkan perikanan- untuk mengelola pada level penggunaan yang memperbolehkan perikanan dan komunitas nelayan untuk menyerap kelimpahan yang rendah sebaik kelimpahan yang tinggi. Untuk beberapa, keberlanjutan berarti mendukung segala sesuatu pada posisinya saat ini. Kekuatan untuk melindungi siapa saja dan menetap pada perikanan membuat dukungan perikanan pada level yang menguntungkan menjadi tidak mungkin.

Stakeholder selalu menunjukkan bahwa perikanan dapat berlanjut pada banyak level. Meskipun pada level yang paling rendah dari produktivita-sepanjang apa yang berpindah tidak melampaui stok apa yang dapat diproduksi. Meskipun juga banyak yang diamati, ini susah untuk difikirkan bahwa keberlanjutan perikanan pada level bawah. Pada level ini, perikanan dan ekonomi bisa saling mendukung , pendukung-pendukung/penyangga-penyangga bisa disediakan untuk melawan resiko dan ketidakpastian, Biodiversity dan kesehatan ekosistem bisa dikelola, dan pilihan tentang tipe-tipe daya guna bisa dimaksimalkan. Akan tetapi m,ereka akan selalu manfaatkan dari pilihan-pilihan yang dibuat antara daya guna yangbbersaing dari bidang perikanan. Pengurangan stok ikan di bawah level yang dapat memproduksi keuntungan maksimal artinya kehilangan dari beberapa pilihan untuk dipilih.

Mencari kelebihan stok ikan untuk keberlanjutan dari ekosistem adalah suatu ide yang kerap diakui, tetapi jarang diiplementasikan. Satu catatan penelitian, bahwa karena variabilitas ekosistem, kebutuhan-kebutuhan keberlanjutan perlu ditentukan oleh sehatnya ekosistem secara keseluruhan dari pada sehatnya spesies secara khusus-dengan pola-pola yang sehat dari variabilitas ekosistem. Perhatioan lainnya adalah meskipun pengelolaan ”single species” dapat diefektifkan untuk mengelola populasi dari tiap spesies. Sebagai contoh ” stripped bass” di Chesapeake Bay- perencanaan pengelolaan perikanan pada saat ini dimulai untuk mengambil beberapa faktor-faktor ekonomi untuk dihitung, seperti efek dari pemindahan pakan dari marine bird dan efek dari alat tangkap pada habitat.

Beberapa ide pengelolaan ekosistem meliputi pengaturan wilayan perlindungan. ”The 1993 report to congress the ecosistem Principles advisory Panel” merekomendasikan para ”fishery manager” untuk menyadari dan mengevaluasi keuntungan-keuntungan potensial dari Marine protected Area” untuk mempromosikan pengelolaan berdasarkan ekosistem. MPA bisa berubah dalam ukuran dan derajat dari pelarangan. Sebagai contoh, beberapa bisa melarang segala bentuk penangkapandan penggunaan non fishing; lainnya bisa melarang atau membatasi hanya pada komersial dan alat tangkap untuk tujuan rekreasi. Peraturan di beberapa wilayah MPA bisa tetap pada eke disepanjang tahun, sementara wilayah taman nasional lainnya bisa membatasi aktivitas hanya selama waktu-waktu tertentu. Contohnya pada saat ikan sedang bertelur.

Pertanyannya sekarang adalah bagaimana untuk menyeimbangkan keuntungan di wilayah MPA (Marine Protected Area) yang bertentangan dengan biaya-biaya. Tantangan pengelolaan perikanan adalah untuk memastikan penangkapan baik untuk komersial, rekreasi dan subsistensi- memperbolehkan keberlanjutan ekosistem untuk dikelola.

Didalam mengetahui hambatan dari pengelolaan skala ekosistem, beberapa stakeholder selalu berfikir bahwa jawaban untuk mengelola kesehatan ekosistem bisa ditentukan mana mereka telah ketahui dan mempraktekkannya. Kita bisa tidak membutuhkan untuk membangun kerumitan/kesulitan dan pendekatan informasi secara intensif kepada pengelola ekosistem. Alternatif yang lebih mudah mungkin adalah pendekatan yang lebih konservatif dari aturan-aturan untuk mengelola stok. Pengelolaan yang lebih baik mampu menjaga level ketersediaan stok lebih tinggi, membuat ikan lebih tersedia sebagai sumber makanan dan mamalia laut dan menjaga seluruh ekosistem agar lebih sehat.

Pengalaman yang lalu selama 20 tahun membuat jelas bahwa untuk mengelola perikanan secara berkelanjutan pada long run membutuhkan lebih banyak kehati-hatian pada short run. Sebagai hasilnya, lebih banyak keputusan-keputusan manajemen memasukkan pendekatan-pendekatan pencegahan. Pendekatan ini mengakui perubahan pada sistem perikanan adalah hanya dapat diputar balikkan secara lambat, susah untuk dikontrol, tidak bagus untuk dipahami, dan subjek untuk merubah lingkungan dan nilai-nilai kemanuasiaan. Dikatakan bahwa dimana dampak dari perikanan nampak tidak jelas, pengelolaan harus lebih konservatif dan tidak ”membunuh angsa yang menelurkan telur emas”. The MSFCMA, meskipun tidak eksplist menggunakan istilah pencegahan namun merefleksikan pendekatan. Pendekatan Melanjutkan definisi yang dimodifikasi dari keuntungan optimum, definisi dari overfishing dan persyaratan dari overfished stoks.

Dimasa lampau, kesehatan dari stok ikan sering dikorbankan untuk kepentingan ekonomi jangka pendek dan perhatian sosial (social concern). Mencari keseimbangan yang tepat antara biologis, ekonomi dan keuntungan-keuntungan sosial adalah suatu pertanyaan yang banyak pendapatnya. Apakah ekonomi jangka pendek dan pengorbanan-pengorbanan sosial adalah tepat untuk membangun kembali stok ikan untuk mengelola keuntungan jangka panjang? Ini adalah satu dari pertanyaan yang paling mengganggu terhadap pengelolaan perikanan.

Konservasi adalah suatu proses dari menyimpan dan investasi. Masyarakat berbeda di dalam kerelaan mereka dan kemampuan mereka untuk menyimpan dan investasi-dimana siapa yang memiliki ”cash flow” (aliran uang tunai) tidak akan adil membayar hutang yang ada adalah tidak seperti mengesampingkan simpanan dan investasi untuk pengembalian di masa datang (future return). Investasi di dalam konservasi perikanan tidak berbeda. Masyarakat seperti ingin menyimpan ikan untuk masa depan- investasi pada masa depan produktivitas perikanan- ketika perikanan sehat secara ekonomi, yang dijelaskan, setidaknya dalam bagian, peningkatan keberatan (tidak terima) melawan kekuatan investasi pada konservasi perikanan ketika perikanan dibawah tekanan.

Banyak orang yang kami wawancarai mengakui kesulitan dari menanyakan nelayan untuk mengorbankan pendapatan saat ini untuk keuntungan masa depan yang tidak pasti. Meskipun stakeholder yang menekankan kebutuhan untuk konservasi secara umum bersimpati tergadap kepedihan manusia, dan kesulitan ekonomi yang berhubungan dengan membangun kembali stok yang kosong. Membangun kembali stok sering menyediakan periode waktu yang lebih panjang dari pada banyaknya masyarakat yang akan mengalami kesulitandi dalam perikanan. Panjang periode waktu pembangunan kembali, transparansi penjualan antara kesakitan individu dengan keuntungan sosial menjadi - antara biaya pada generasi yang satu dengan keuntungan generasi yang lainnya. Permasalahannya adalah bahawa siapa yang membayar biaya dari pengurangan jumlah produksi tidak mengharapkan untuk menjadi salah satu orang yang menuai keuntungan.

Terkadang masyarakat di dalam perikanan membutuhkan untuk mengoperasikan di bawah lebih bersifat membatasi regulasi didalam respon untuk penurunan stok tidak disebabkan oleh penangkapan. Banyak perubahan kelimpahan stok sebagai hasil dari kejadian alam seperti El Nino atau siklus populasi. Suatu response bersama untuk situasi ini adalah untuk memprotes bahwa “kita tidak dapat menyebabkan kecendrungan ini untuk mundur/turun, oleh karenanya mengapa kita bisa memotong kembali?” tetapi hanya musim kering disebabkan oleh pola perubahan cuaca membutuhkan pembatasan terhadap penggunaan air, oleh karenanya fluktuasi alami pada stok ikan membutuhkan peningkatan pembatasan pada penangkapan ikan.

Banyak sekali contoh dari perikanan yang telah terselamatkan dari pandangan dangkal dari manajemen. Para ahli lingkungan mengutip contoh dari spiny dogfish di New England dan Mid Atlantic.” Kami menggiatkan pembangunan dari perikanan spiny dogfish Atlantic tanpa tinjauan ke masa depan dan tanpa perencanaan manajemen perikanan” (jawabnya menyesali). Kita semestinya belajar dari giatnya penangkapan yang tidak diinginkan seperti wabahu ....dogfish akan mengambil masa 10 tahun untuk pulih-perikanan mungkin akan menjadi punah. Jika kita telah mengelola perikanan dari awal, kita harus dapat menghindarkan meletakkan nelayan di luar bisnis. “sebagai anggota dari seluruh sektor yang dikenali, kehilangan peluang di masa depan sebagai suatu hasil dari kegagalan mengantisipasi dan mencegah wabah ikan.

Tetapi selalu ada contoh dari perikanan dimana, suatu ketika satu masalah dari short sightedness telah diobservasi, tindakan koreksi telah dilakukan. North Pacific Hallibut, dapat dibantah lebih produktif, sustainable.

Peluang Biologi yang hilang

Over fishing mengakibatkan beberapa kondisi antara lain :

  1. Menangkap ikan pada suatu ukuran yang jauh di bawah ukuran potensi maksimumnya.
  2. Tidak dilakukannya re-stoking pada daerah-daerah catchable area

Peluang Ekonomi yang hilang

Dapat juga diakibatkan oleh overfishing ekonomi secara alami. Overfishing ekonomi terjadi manakala perikanan telah dikembang;kan di luar titik tangkapan maksimum tetapi penyebab overfishing mendasar adalah overcapacity dimana jumlah kapal dan alat tangkap yang melebihi dari jumlah yang diperbolehkan.

Peluang Sosial yang hilang

Dampak dari peraturan perikanan misalnya dengan memberikan kuota dapat mengakibatkan menurunnya beban pekerjaan sehingga terjadi penurunan pendapatan. Dalam satu paragraph dijelaskan Manajemen dewan disalahkan oleh beberapa stakeholders karena lambat dalam memberikan pemahaman dan pendidikan ke publik tentang perikanan sebagai suatu ecosystem yang lebih luas.

Diadakan survey pada 3.500 nelayan hasilnya mengatakan 81 persen mereka sangat cemas dengan masa depan perikanan, 79 % dikatakan mereka tidak akan merekomendasikan perikanan sebagai masa depan mereka.

Kesimpulan

1. Stock sehat akan memelihara masyarakat sehat, economies sehat, dan perikanan sehat.

(Dick Schaefer, National Marine Fisheries Scienice)

2. Stakeholders harus memperhatikan konservasi dengan memperkuat manajemen perikanan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar