Minggu, 25 Januari 2009

FISIOLOGI PENGLIHATAN DAN KEMAMPUAN RENANG DARI JAPANESE WHITING DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PROSES PENANGKAPAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP SWEEPING


Oleh :

Ari Purbayanto, Seiji Akiyama dan Takafumi Arimoto

ABSTRAK

Ketajaman penglihatan dan kemampuan renang dari Japanense whiting sillago japonica telah diuji untuk menjelaskan proses penangkapannya dengan menggunakan sweeping trammel net. Ketajaman penglihatan ditetapkan dari cone density retina cenderung lebih tinggi pada ikan yang lebih besar. berkisar 0,08 untuk ikan yang memiliki panjang 163 mm dan 0,12 untuk ikan dengan panjang 283 mm. Jarak maksimum penglihatan dari beragam trammel net terhitung dari range ketajaman penglihatan dari 20 sampai 60 cm untuk twines dan 100 sampai 150 untuk tali ropes, 550 sampai 750 cm untuk floats(pelampung). Ketahanan renang dari JWSJ diukur sebagai suatu penurunan renang pada flume tank dengan kecepatan berenang yang tinggi. Kecepatan renang maksimum dan terus menerus antara 47,77 cm/sec dan 50,51 cm/sec untuk ikan dengan panjang 127 sampai 283 mm. Hasil dari karakteristik penglihatan/visual dan kemampuan berenang dari JWSJ telah didiskusikan dalam hubungannnya pada proses penangkapannya dengan menggunakan trammel net. Untuk ikan yang berenang dekat dengan dasar laut dan tidak bisa dideteksi lebih awal oleh alat tangkap dengan kekuatan deteksi twine pada jarak pandang yang pendek dari net. JWSJ panik dengan sekuat tenaga mencari jalan untuk meloloskan diri dan tidak mampu menemukan rute terbaik untuk melarikan diri. Untuk ikan yang mampu melihat pelampung, JWSJ akan sempat memiliki waktu renang untuk melewati headline agar lolos dari tangkapan.

PENDAHULUAN

Pengenalan alat tangkap dan penghindaran ikan target dan non target adalah faktor-faktor penting untuk memahami proses penangkapan suatu alat tangkap. Wardle : berpendapat bahwa penghindaran alat tangkap oleh ikan selama proses penangkapan bisa diprediksi dari range penglihatan dan kecepatan berenang. Oleh karena itu, perbedaan ukuran pada ketajaman penglihatan dan kemampuan berenang dari ikan target dan non target dapat menjadi kunci untuk menjelaskan bagaimana ikan bereaksi terhadap alat tangkap. Pendekatan ini selalu dianggap sebagai suatu alternatif dalam mengelola sumberdaya, yang digunakan untuk melestarikan ikan-ikan kecil dari alat tangkap hingga meningkatkan ukuran atau selektivitas spesies selama proses penangkapan tanpa kerusakan dan merusak sumberdaya.

Ketajaman penglihatan dari hewan diukur dari kapasitasnya dalam menjelaskan detail-detail didalam pandangan, dan ini bisa ditunjukkan sebagai minimum pandangan yang dapat dipisahkan di dalam membedakan dua target yang terlihat dekat yang diukur melalui pengujian histogical. Minimum ketajaman pandangan dapat selalu diukur sebagai ukuran reaktif terhadap target visual/penglihatan oleh metode tingkah laku.

Tiga faktor penting yang harus diketahui untuk menguji kemampuan berenang ikan antara lain: (1) kecepatan berenang, (2) daya tahan ikan berenang/endurance time, (3) kelelahan otot dari ikan selama berenang. Webb memperkenalkan kecepatan berenang ikan ke dalam 3 level yang berbasis waktu dimana kecepatan dapat dimaintained. Pertama, sustained speed, dimana termasuk keseluruhan kecepatan dan atau pemeliharaan aktivitas daya gerak untuk minimum 200 min. Definisi ini mencakup luasnya range dari pola daya gerak diarahkan menjadi 3 kelompok : routine (terus menerus), schooling, dan cruising(menjelajah). Kedua, Prolonged speed kecepatan yang berlanjut, yang didefinisikan dalam hubungannya untuk sustained dan burst speed dapat dipertahankan dalam waktu antara 15 detik sampai 200 menit. Ketiga, burst atau sprint speed, termasuk kecepatan berenang dapat dipertahankan kira-kira tidak kurang dari 15 detik. Tsukamoto menyatakan bahwa pada penelitian terakhir menunjukkan maksimum kecepatan yang dapat dipelihara (cruising speed ) dan maksimum kecepatan (burst speed) telah diukur dengan membandingkan kemampuan renang ikan.

Meskipun banyak studi tentang ketajaman penglihatan dan kemampuan renang ikan telah dilakukan, namun hanya beberapa studi saja yang mengaplikasikan antara ketajaman penglihatan dan kemampuan berenang untuk menjelaskan proses penangkapan dari alat tangkap yang ditujukan untuk meningkatkan selektivitas ukuran. Dalam penelitian ini, ketajaman penglihatan dan kemampuan berenang dari JWSJ sebagai target tangkapan dari sweeping trammel net di teluk Tateyama, Chiba, Jepang telah diuji. Hasilnya digunakan untuk menjelaskan proses penangkapan ikan oleh alat tangkap dalam hubungannya dengan selektivitas ukuran dari ikan.

BAHAN DAN METODE

PENGUKURAN DARI KETAJAMAN PENGLIHATAN

Sembilan ikan Japanese whiting (110-253 mm BL atau setara 127-283 mmTL). Dikumpulkan dari penangkapan sweeping trammel net komersial di teluk tateyama, Chiba,Jepang pada bulan april tahun 1997. retina ikan-ikan tersebut dengan segera dijadikan sampel dan kemudian ditempatkan pada larutan bouin, sementara diameter lensa telah diukur pada ukuran terdekat 0,1 mm. Dengan menggunakan prosedur histological, sampel retina telah disiapkan untuk observasi mikroskopik sampai menurut tangential pembedahan microtome sampai ketebalan 4 mikrometer

Nilai minimum sudut yang dapat dipisahkan ditetapkan dari densitas cone per 0,01 mm2 area didalam disetiap bagian retina menggunakan formula yang diberikan oleh Tamura sebagai berikut :

Dimana α rad adalah nilai minimum sudut yang dapat dipisahkan dalam radian(lingkaran) F adalah focal lenght dari lensa yang mana dapat dihitung dari nisbah Mathiensson (2.55 kali dari radius lensa), nilai tetapan 0,25 adalah derajat penyusutan melalui prosedur histogical, dan n adalah angka dari kerucut per 0,01 mm² diketahui dari observasi mikroskopik. Karenanya, ketajaman penglihatan /visual acuity (VA) dalam derajat adalah kebalikan dari maksimum sudut yang dapat dipisahkan seperti yang ditunjukkan oleh persamaan berikut :

Maksimum jarak penglihatan (D) dari Japanese whiting pada pencahayaan ideal dan kondisi/keadaan air yang jernih untuk ukuran objek penglihatan yang berbeda dapat diperkirakan dari ketajaman penglihatan dengan menggunakan persamaan berikut :

Dimana α adalah minimum sudut yang dapat dipisahkan dalam radians dan d ukuran objek penglihatan

PENGUKURAN KEMAMPUAN BERENANG

Kemampuan berenang Japanese whiting diukur dengan mengamati waktu ketahanan berenang dalam flume tank bertipe kecil (panjang 241,6 cm dan tinggi 90,9 cm) dengan sebuah akuariun observasi berukuran 70X30X20 cm. percobaan dilaksanakan pada Laboratorium fish behavior dynamics Tokyo University of fishery, dari Mei hingga Juli 1997. Total 34 individu ikan yang sehat dari penangkapan dengan alat tangkap trammel net di Teluk Tateyama, chiba,Jepang digunakan dengan membandingkan kemampuan berenang ikan dari perbedaan ukuran panjang, ikan-ikan ini dibagi dalam dua kelompok ukuran panjangnya, contohnya; ikan kecil (138-152 mm Body length/ BL) dan ikan berukuran sedang (158-198 mm BL)

Prosedur percobaan untuk mengamati waktu ketahanan berenang diuraikan sebagai berikut. Setelah seekor ikan disesuaikan pada iklim didalam flume tank dijaga arah berenangnya agar berlawanan dengan aliran air pada 10,67 cm/sec, kecepatan aliran dinaikkan perlahan lahan hingga kecepatan yang diputuskan untuk memulai percobaan. Ikan dipaksa untuk berenang pada masing-masing tingkat kecepatan hingga kehabisan tenaga dan berhenti berenang. Waktu yang dibutuhkan untuk itu didefinisikan sebagai endurance time (waktu daya tahan) pada kecepatan aliran tersebut. Prosedur ini dilaksanakan sama untuk sample ikan lainnya dengan diberikan kecepatan aliran yang berbeda berkisar dari 47,10 cm/det - 111,58 cm/det.

Secara umum kecepatan maksimum yang dapat dipertahankan adalah batas antara sustained speed dan prolonged speed (kecepatan yang berlangsung lama) oleh karenanya waktu ketahanan renang bisa didefinisikan sebagai 12.000/det. Dalam eksperimen ini jika Japanese whiting bisa bertahan untuk berenang lebih dari 200 menit atau 12000 detik pada kecepatan tertentu, observasi dihentikan dan waktu daya tahan berenang direkam selama 12000 detik temperatur air direkam pada flume tank selama experiment berkisar dari 22,5 sampai 26,4°C dan DO (dissolves oksige)n berkisar dari 4.8 sampai 6.2 ppm.

HASIL DAN DISKUSI

Ketajaman penglihatan dan jarak maksimum penglihatan.

Hasil pengujian histogical pada sampel retina dari JWSJ menunjukkan bahwa maksimum cone density dari 207 sel/0,01 mm² untuk ikan dengan ukuran 164 mm BL dan 185 sel cone/0,01 mm² dengan ukuran ikan 252 mm BL ditentukan didalam bagian ventro temporal dari retina. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa poros visual dari ikan menunjukkan arah bagian depan paling atas, berdasarkan gambar 1 menunjukkan bahwa cone density dari retina cenderung menurun seiring peningkatan dari panjang ikan. Sementara, ketajaman panglihatan dari JWSJ sedikit meningkat secara linear oleh peningkatan BL (panjang badan ikan) dari 110 mm sampai 252 mm, dimana nilai minimum dari 0,08 pada ikan dengan BL 148 mm dan nilai maksimum dari 0,12 pada ukuran BL 252 mm. (gambar 2).

Gambar 1. Hubungan antara cone density dan BL dari Japanese whiting

Gambar 2. Hubungan antara visual acuity dan BL dari Japanese whiting

Dengan (visual axis) poros penglihatan dari arah muka bagian atas(fore-fore-upper) JWSJ melihat secara jelas sebuah objek yang diarahkan oleh garis yang hampir horizontal. Kondisi optik dari habitat lingkungan dimana ikan hidup dianggap telah memiliki hubungan dengan fungsi visual. Kawamura melaporkan bahwa JWSJ adalah ikan diurnal dengan habitat dasar berpasir dan membenamkan tubuhnya kedalam pasir sementara kepalanya muncul. Perilaku ini bias melindungi JWSJ dari serangan predator melalui penglihatan ketika predator itu datang mendekat dengan nilai kisaran penglihatan sepanjang visual axis (poros penglihatan), oleh sebab itu, disadari penting untuk mendeteksi serangan predator dari pada hanya untuk mencari makanan, JWSJ mencari ikan dengan arah horizontal dengan makanan utama crustacea kecil dan polychaeta sebagai diet utama di dasar laut.

Ketajaman penglihatan dari JWSJ sedikit rendah dibandingkan ketajaman penglihatan dari 10 ikan pelajik yang besar dilaporkan oleh Tamura dan Wisby seperti greater amberjack Seriola dumerili, skipjack tuna Katsuwonus pelamis, dan blackfin tuna Trackhurus japonicus. Tamura selalu menguji tingginya ketajaman penglihatan dari 27 spesies teleost pada umumnya. Dibandingkan terhadap ikan pelagic kecil, ketajaman penglihatan dari JWSJ, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan Jack Mackerel Trachurus japonicus. Sementara, dikelompok yang sama dari Ikan Damershal, Ketajaman penglihatan dari JWSJ sedikit lebih tinggi dibandingkan Walleye pollock Theragra chalogramma, tetapi lebih rendah dari red sea bream Pagrus major.

Jarak pandang maksimum dari JWSJ dalam hubungannya dengan total panjang dan ukuran obyek penglihatan ditunjukkan pada gambar 3. Di sini terdapat 4 visual objek penglihatan yang berbeda, sebagai contoh, 1 mm untuk mesh twine thickness (ketebalan jalinan lubang jaring) dari sweeping trammel net, 4 mm untuk Rope diameter(diameter tali), 15 mm untuk sinker diameter (timah pemberat), dan 20 mm untuk float (diameter pelampung). Itu dapat terlihat pada gambar bahwa peningkatan panjang total cenderung untuk meningkatkan jarak maksimum penglihatan dari ikan khususnya untuk obyek penglihatan yang lebih besar ukurannya dari sinker diameter (timah pemberat) dan float (pelampung). Dengan ukuran obyek penglihatan net twine, jarak maksimum penglihatan untuk ikan yang paling kecil (127 mm panjang total) sangat rendah dari 0,28 m dan sedikit meningkat menjadi 0,31 m untuk ikan yang lebih besar (283 mm TL). Untuk ukuran obyek penglihatan yang lebih besar seperti tali rope, sinker (timah pemberat) dan float (pelampung) nilai dari jarak maksimum penglihatan untuk ikan yang paling kecil meningkat secara berangsur-angsur menjadi lebih tinggi dibandingkan untuk mesh twine1 m, 4 m, dan 5,5 m, secara berturut-turut.

Gambar 3. Jarak maksimum penglihatan dari Japanese whiting berdasarkan panjang total dan ukuran objek

Kemampuan Berenang

Dengan memploting endurance time(E) dalam skala logaritma ke kecepatan renang dari JWSJ (V dalam cm/detik) seperti yang ditunjukkan pada gambar 4, hubungan antara parameter tersebut untuk ukuran ikan kecil dan sedang dijelaskan baik oleh regresi linear sebagai berikut :

Log E = -0,06V + 7,11 (r=0,8) untuk ukuran ikan kecil

Log E = -0,04V + 5,99 (r=0,8) untuk ukuran ikan sedang

Dari garis regresi (gambar 4) bisa dijelaskan bahwa ikan dengan ukuran sedang memiliki suatu nilai kecepatan yang maksimum yang berlangsung lama dan burst speed dibandingkan dengan ikan dengan ukuran yang kecil (berbeda 22,92 cm/detik). Sementara, sustained speed hampir sama. Estimasi dari kecepatan maksimum yang diteruskan (dipertahankan sampai 200 menit) 50,51 cm/detik untuk ikan ukuran kecil dan 47,77 cm/detik untuk ikan ukuran sedang. Mengingat ikan mampu mempertahankan sampai 10 detik pada kecepatan yang tinggi, kecepatan maksimum yang berlangsung lama atau burst speed bisa diestimasi sebagai 101,83 cm/detik untuk ukuran ikan yang kecil dan 124,75 cm/detik untuk ukuran ikan yang sedang.

Gambar 4. Kecepatan renang dan daya tahan renang untuk ikan Japanese whiting ukuran kecil dan sedang

Ikan JWSJ yang kecil menunjukkan kemampuan berenang yang lebih baik didalam flume tank dibandingkan ikan yang berukuran sedang, hal ini diindikasikan oleh kecepatan maksimum yang berlangsung lama dari 5,74 cm/detik untuk ikan dengan ukuran kecil dibandingkan dengan ikan berukuran sedang. Ruang yang kecil dari aquarium observasi dari flume tank yang digunakan dalam eksperimen ini dianggap sebagai alasan untuk ikan berukuran sedang yang tidak dapat memperlihatkan kemampuan berenang yang sebenarnya, seperti yang dia selalu nyatakan oleh He, 1986 dalam alasan yang lain. Di lain kasus, tingginya burst speed dari JWSJ dianggap memiliki hubungan dengan karakteristik otot dari spesies ini. Seperti ikan demersal, JWSJ memiliki volume yang besar dari otot putih dan sangat kecil otot merahnya. Kondisi ini berhubungan erat dengan ekologi dari spesies yang jarang bergerak, tetapi melenting/melesat dengan kecepatan yang tinggi ketika dalam kondisi yang berbahaya.

Model Proses Penangkapan oleh Trammel Net

Sweeping trammel net adalah alat tangkap typical entangling gear dengan mekanisme encircling (melingkar) dan sweeping (menyapu) disepanjang fishing ground untuk menangkap JWSJ di teluk Tateyama, Chiba, Jepang. Ini telah dijelaskan bahwa jaring berbentuk u setelah disetting. Sinker (timah pemberat) dari body net statis selama proses penyapuan, dan kecepatan pergerakan net pada body net berkisar dari 9,2 sampai 32,5 cm/detik.

Pada operasi penangkapan yang sebenarnya dialam JWSJ, berenang menutupi seabad (dasar laut), kemudian towing dilakukan dengan cara menggiring sampai pada wilayah catch able area seperti halnya type alat tangkap jenis dragging net. (gambar 5). Setelah ikan target digiring , dua kemungkinan tingkah laku ikan dapat terjadi antara lain : Pertama, Ikan pada seabed berenang lurus pada arahan dari sudut kanan melawan datangnya alat tangkap. Ikan dapat mendeteksi jaring ketika datang dan sangat dekat dengan alat tangkap dengan melihat jaring sebagai petunjuk visual axis (poros penglihatan) dalam jarak penglihatan yang rendah dari 0,28 sampai 0,31 m. Pada air yang keruh jarak maksimum penglihatan akan menurun pada level minimum. Kondisi ini menghasilkan sampai pada jarak respon terendah ikan yang menyebabkan ikan menjadi panik. Oleh sebab itu, ikan tidak dapat mendeteksi jalan terbaik untuk melarikan diri dengan aman meskipun ikan memiliki kemampuan renang yang baik (maksimum sustained speed dari 47,77-50,51 cm/detik) kira-kira 2 kali lebih tinggi dari pada kecepatan jaring pada pusat body net. Fakta menunjukkan bahwa banyak JWSJ ditangkap di wilayah dasar dari jaring berbentuk U (U-Shape net). Dua rute melarikan diri untuk menghindari alat tangkap bisa dilakukan oleh beberapa ikan seperti berenang menjauh dari jalur main sinker atau pada saat alat tangkap mulai mendekat

Kedua, Selama berenang dari jalur sudut alat tangkap, ikan mampu mendeteksi jaring dengan melihat pelampung. Disini, ada tiga contoh dari rute dari ikan kecil untuk melarikan diri (127 mm TL) dengan berenang melewati disekeliling garis pelampung seperti terlihat pada gambar (Gambar 6). Jika ikan berenang pada kecepatan maksimum sustained speed dan jaring bergerak menghampiri ikan pada kecepatan sapuan tertinggi selama 7 menit, keberhasilan ikan untuk melintasi pelampung tergantung pada posisi ikan ke float line dan antara interception ikan dan jaring, yang dipengaruhi oleh lapisan renang sehingga dapat melewati float line dengan baik hal ini disebabkan net barrier (net penghalang) pada wilayah interception telah diminimalisir.

(Diterjemahkan : Muslim Tadjuddah/muslim-tadjuddah@blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar